Monday, November 09, 2009

Padamkan Mataku





Padamkan Mataku


Meski kau padamkan bara di mataku aku masih bisa melihatmu,
Sumbatlah rapat telingaku aku masih mendengarmu,
Tanpa kaki aku masih sanggup mendatangimu,
Mulut tiada aku masih dapat memanggilmu,
Potonglah lenganku aku masih sangup memegangmu,
Hentikan jantungku maka otakku akan berdetak,
Dan jika kau sulut otak itu,
Kau bakal kupanggul dalam darahku!


___________________

*rainer maria rilke*
musim panas/musim gugur 1899

Sunday, November 08, 2009

Hi Rudolf! *setelah 6 tahun berlalu* (Kita Tak Pernah Bisa Melewati Arus Sungai Sungai Yang Sama Untuk Kedua Kalinya, Begitu Ucap Herakleitos)




Tahun adalah seperti titik-titik hujan dalam hitungan umur dunia. Mungkin begitu saya bisa mengumpamakan cara saya menghitungnya pagi ini. Seperti hujan, tahun datang dan pergi, lengkap dengan segala cerita, latar belakang, serta musabab terciptanya iklim pada waktu itu.

Rudolf.
Begitu namanya.
Di Lembur Pancawati,
Itulah tempat kejadiannya.

Dia santun, berambut ikal, umurnya mungkin 55-an.
Saya di sana, bersamanya selama hampir 2 mingguan.

Tentu saja kami tidak hanya berdua. Ada sekitar 20-an peserta lain turut dalam workhsop tentang 'transformasi konflik' tersebut. Saya masih berusia 27, dan umur tak menemboki saya untuk mengagumi sang profesor yang selalu tampak cool dan calm. Menerangkan dengan tenang bagaimana konflik demi konflik berdampak pada jiwa-jiwa dalam diri korban.

Tahun 2003, saya sempat terjebak workshop di lembur pancawati dan tertawan secara hati pada Rudolf-Sang Profesor. Seorang mentor yang usianya jauuuuuuh lebih tua dari saya. Sore di tempat ini, kami biasanya berbincang. 6 tahun kemudian, pada oktober yang baru lalu, saya kembali ke tempat tersebut untuk tujuan yang lain.

Tak banyak yang berubah. Mereka masih teronggok di sana; Kursi taman tempat kami biasa berbincang tentang tuhan, masih tetap berwarna merah; Gerombolan semut yang berduyun di dahan pohon jenjing yang kerap kami ketawakan sambil membuat aneka peng-ibaratan, juga masih berkoloni dengan setianya; Sore masih bersikukuh untuk tetap menjadi indah dan sejuk di sana; Energi nyaman yang sewaktu saya dan Rudolf kerap dapatkan di tempat tersebut juga masih mengalir, terlebih bila hujan kecil mampir.

Lembur Pancawati, tak ada yang berubah...
Rudolf dalam ingatan saya juga tak berubah.

Tapi seperti kata herakleitos yang sempat saya baca dalam lembar buku filsafat yunani klasik pada semester dua ketika saya masih menjadi mahasiswa,
"kita tak pernah bisa melawati arus sungai yang sama untuk kedua kalinya...."

Rudolf, semoga kamu baik-baik saja....

Wednesday, November 04, 2009

Warna Rambut Baru Gue








gue suka idenya. di label kotaknya tertulis kalau warna rambut ini 'mud cherry'.

gue nggak ngerti arti tepatnya, apakah cherry warna lumpur ataukah lumpur ke cherry-cherry-an yang artinya adalah coklat agak merah.

bodo.

gue bukan hair stylish. gue bukan ahli etimologi dan nggak gape bahasa enggris. gue cuma seorang yang selalu tertarik untuk bereksperimen. kali ini, dengan rambut gue. Dan yang penting, idenya menarik :meletakkan lumpur dan cherry di kepala. walau sesungguhnya...

huhuhu,

secara warna nggak kelihatan signifikan.
rambutku terlalu hitam booooo....

Kelas & Murid-Murid Gue





Kebanyakan mereka manggil gue teteh, sebutan untuk kakak 'cewek' dalam bahasa sunda. ada juga sih yang nyebut gue 'ibu', terutama si george yang anak manado dan nggak pernah bisa manggil gue teteh.

Mata pelajaran yang gue ajar: scriptwriting dan directing the documentary. Adapun jumlah murid di kelas cuma 16 dan ceweknya satu orang doang, si echa yangjago basket pula. kebanyakan anak-anak ini maunya senang-senang sambil dapat pelajaran. ada yang bilang gue kecepatan, ada yang bilang gue udah pas, dan ada juga yang bilang 'teh ucu kalo ngajar selalu asik'. yang jelek-jelek dan masukan dari mereka gue dengerin, yang bagus-bagus gue telan langsung dan gue daratkan ke ingatan tak bermemori panjang karena yang gue butuhkan adalah selalu masukan.

Ini pertamakalinya gue ngajar booooooo...
maksudnya, ngajar regular dalam kelas.
kalau workshop sama anak-anak SMA atau kuliahan mah, sering... tapi jadi teacher?


Belakangan, karena pemadaman listrik bergilir, lampu suka mati. termasuk di ruang movie dan kelas. dan itu artinya bencana. karena gue kalau ngajar selalu pake proyektor dan screening film. entah pendek atau panjang. entah film lokal atau dalam negeri, maupun film luar.

Anak kelas gue yang kebanyakan lelaki ini kayaknya datang dari kelas ekonomi menengah-atas. ada yang dari sukabumi kayak si andhika yang kerap berkelakuan feminim, ada si george yang dari manado dan bertampang indo tapi paling nggak ngerti bahasa inggris, ada juga yudha atau ryian, juga fitra yang dari jakarta dan mereka udah pernah ngampus sebelumnya alias pernah jadi mahasiswa sebelum mereka jadi mahasiswa di The Next Academy.

Lucu siyh mereka... dan gue juga enjoy share knowledge bareng mereka di sana. Sayang murid ceweknya cuma satu, padahal andai saja anak-anak cewek di jakarta sini lebih banyak yang tertarik sama audio-visual, terutama dokumenter...

Hehe, di atas adalah foto waktu kemarin gue diajak hangout makan siang sama anak-anak di Pejaten Village setelah kelas bubar. Rencananya, bersama kelas, kami akan nonton film dokumenter "THIS IS IT" -nya michael jackson, tapi karena anak-anak-anak banyak yang udah nonton dan gue ada meeting di transtv, yaaa.... jadinya kita cuma makan-makan sambil ngerokok doang deh. Hihi.

Sunday, November 01, 2009

Imajinasi Pekerjaan...





Harapan besarku adalah untuk tertawa sebanyak aku menangis, untuk melihat pekerjaanku beres, untuk mencoba mengasihi semua orang, serta untuk kembali memiliki keberanian menerima cinta... *Maya Angelou - Penyair Amerika*

Di atas itu adalah kutipan pagi yang saya dapat dari Pada Mulanya Kata, sebuah kolom di halaman A4, pinggir Koran Tempo Minggu. Kali ini, edisi minggu-nya rupanya sedang menyorot tema 'kerja', maka ya... quote-quote itulah yang tersebar di sana.

Selain dari tante maya, ada juga siyh quote lain yang sebenarnya mengusik saya: Kejaiban adalah bukan apa yang kita kerjakan, melainkan bahwa kita bahagia untuk mengerjakannya, demikian ucap Bunda Theresa (Spritualis India, 1910-1997)*. Dan tentu satu kutipan lagi dari mantan presiden amerika Thomas Jefferson (1743-1826) juga menarik. Katanya, Aku sangat percaya pada keberuntungan, dan menemukan bahwa semakin keras aku bekerja semakin aku memiliki keberuntungan .

Hhmmm....

Bulan oktober yang baru lewat ini, rasanya terlalu banyak kerjaan. Tiap weekend keluar kota, dua hari di tiap awal minggu harus ngajar, dan tentu saja saya juga harus nulis meski itu cuma seminggu sekali untuk bikin skrip pendek sinema BRI. Maka ketika tadi pagi, produser saya nelpon dan nawarin kerjaan lagi, saya pikir tidak segala hal harus diputuskan cepat.

Tentu saja saya mau saja mengerjakan kerjaan lain lagi, tapi saya harus pikirkan matang-matang. kalau segala hal saya iyakan, saya ngeri hasilnya buruk, dan saya takut hasil yang buruk akan menghantui saya serta merugikan si 'penyewa' saya. membuatnya kecewa dengan hasil yang tak sempurna. belum lagi dengan rencana-rencana project personal saya yang kerap terkatung karena waktu yang banyak tersita untuk komitmen dengan kontrak-kontrak kerja yang telah saya terima.

Haruskah saya sekarang pergi segera ke transtv untuk bilang iya dan memutus meeting secepatnya?


Hhhmm...

Pekerjaanmu adalah untuk mengungkapkan duniamu dan kemudian, dengan segenap hatimu, kamu mempersembahkan dirimu untuknya *Sidharta Gautama, 563-483 SM*

Monday, October 26, 2009

Malam Ini...

Kita mengkerut dan beranjak menua
Tapi musim panas telah tiba
Dan puisi,
Ia selalu sendiri...
Dan ia merdeka selamanya


(malam ini saya mendengar puisi itu bernyanyi sendiri)

Friday, October 23, 2009

Dua Surat Untukmu, Yang Harusnya Kukirim Kemarin... (surat-1*)




Kemarin, harusnya kukirim dua surat untukmu..

Pertama, surat cinta yang samar
Kedua, surat tentang perasaanku yang selalu bercampur bila mengingatmu.

Karena malam ini aku hanya punya waktu sedikit, maka inilah surat yang pertama yang harusnya kukirim padamu kemarin... surat cinta singkat yang mungkin tak berisi rayuan atau kata-kata gombal, tapi cuma sebuah surat cinta yang samar. tulisan yang lamat-lamat mungkin mengingatkanmu pada sesuatu yang bukan apa-apa; aku.

Kak,
Kemarin pagi seorang teman menulis sebuah surat yang amat bagus, setidaknya menurutku. Sebuah surat tentang pelajaran yang baru diterimanya pagi itu. Dia, teman kita. Aku mengenalnya, dan aku tak syak sama sekali bahwa kau pun pastilah mengenalnya juga.

Dia, teman kita itu, berumur 50-an. Dan sang guru yang mengajarinya hal baru, belum lagi berusia 13 bulan.

Sesaat setelah membaca suratnya, pikiranku langsung melayang padamu. Tulisan itu Kak, membentangkan benang ingatanku padamu karena kau kerap bercerita tentang anak-anakmu. Tentang kue yang kau bagi buat mereka dalam puisimu. Tentang betapa inginnya kau menjadi ayah yang disukai anak-anakmu karena kau pun menyukai ayahmu dari sejak kecil dulu dan masih tetap begitu perasaanmu padanya, sampai kini.

"Ucu, aku sangat suka ayahku," ucapmu suatu hari pada tanggal yang tak kuingat lagi. Dan tentu saja aku pastinya hanya mengangguk-angguk sambil terpukau mendengarkan ucapanmu.

Kau tahu syair lagu yang dilantunkan Sting dan The Police dari salah satu track album 'Every Breath You Take?'

... Yup!
Bila Sting bilang 'Every little things she said is magic," maka begitulah kau bagiku. semua yang kau ucapkan bagiku selalu terasa bagia sebuah keajaiban. Bukan cuma arti kalimatnya, namun terlebih pada efek yang kemudian terimbas padaku. Bagiku, ucapan-ucapanmu, jauh lebih banyak hikmahnya daripada kata-kata para ustadz yang terhambur di mimbar-mimbar jumatan atau di tepi-tepi meja kalam di televisi.

Contoh mudahnya saja... Banyak teman dan para senior berbicara, menganjurkan, atau bahkan mau membimbingku mencarikan jalannya bila aku ingin kuliah lagi, misalnya. Tapi semua ide itu... bagiku sama sekali tak menarik minat dan menggugah keinginan sampai suatu hari setelah ku mengenalmu, kau datang dan bilang, "Ucu, aku mau kuliah lagi. Masih belum tahu apakah Paris ataukah cukup Australia saja. Yang jelas, aku akan kembali kuliah". Dan kau tahu... sejak kau mengatakan kalimat itu padaku, secara ajaib seluruh jiwa dan sel dalam tubuhku merenda jalan dan meretas kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tak pernah kupikirkan: kembali ke bangku sekolahan (Kakak, aku jadi mau kuliah juga!)

Dan saat kau kerap bercerita tentang jagoan-jagoan kecilmu, bagaimana rasanya memiliki anak, pikirankupun membiak.

Dulu tentu sempat kuberpikir tentang anak, tapi itu sangat lalu. mungkin sekitar usia 22 atau 25 dan 27-an lah. Lalu seiring banyak hal yang kutemui di jalan, pikiran tentang anak itu hilang sampai saat kau datang dan melalui cerita-ceritamu, pikiran masa lalu itu kembali menjengukku.

"Ucu, anak membuatku memiliki tanggungjawab," ujarmu waktu itu. "Lagian kita tak selamanya muda... saat lelah, energi terkuras dan kau merasa begitu letih untuk melanjutkan hidup, maka dengan memandang mereka saja, energimu akan kembali. kau akan mampu melakukan apa saja buat mereka," ucapmu melengkapi pendapat pribadimu tentang jagoan-jagoan kecilmu.

"Bagaimana rasanya mempunyai anak?" tanyaku ingin tahu.

"Amazing, tapi juga bikin pusing," ucapmu sambil terbahak, dan dengan jelas, sampai saat ini aku masih bisa mengingat tone suara tawamu meski itu cuma kau yang tertawa di ruas kamarmu dan aku mendengarkannya dari telepon genggam di tepi kasurku. kita berjauhan. jarak antara kita terentang. tentu saja, kita tidak dalam satu kamar.

Tapi pagi ini...

Kak, aku menemukan tulisan teman kita. Dia menulis sangat bagus tentang apa yang telah bisa diajarkan putri kecilnya pada sang Ayah. Dan karena setiap kali aku mengalami, memiliki, atau merasakan hal bagus aku selalu ingin membaginya denganmu, maka inilah yang terjadi saat ini.

Tentu saja aku harusnya menulis surat ini kemarin, untukmu.
Aku membacanya kemarin...

Namun tentu tak ada tanggal kadaluarsa untuk ingatan dan tulisan. Untuk surat yang ingin dikirimkan. Surat untukmu, tentang seorang putri kecil yang mengajari anaknya pelajaran yang sangat berharga dan belum tentu bisa diajarkan orang dewasa, atau orang lainnya.

Aku yakin, bagi Hamid Basyaib--teman kita itu, anaknya adalah serupa engkau bagiku. Melakukan dan mengatakan banyak hal yang keluar secara spontan dan tak memiliki tujuan politis untuk mengajari tentang 'sesuatu hal', tapi dengan cara yang aneh, kalian... menggugah kami untuk mengetahui hal-hal yang sebenarnya mungkin saja telah kami ketahui namun terlupa karena banyaknya prioritas-prioritas yang menjadi semacam 'arus utama'.

Kakak,
Inilah tulisan berupa surat yang kubilang bagus itu...


____________________________________________________

*Hak Milik ALma Sophia*



Hari ini, kembali Alma Sophia memberi saya pelajaran penting. Ia berusia 12 bulan 3 minggu, dan sedang bermain-main dengan saya ketika Pak Supir, tanpa bicara, mengambil laptop dari meja makan untuk dibawa ke mobil – saya akan segera ke kantor.

Melihat laptop ayahnya “dicuri”, Alma dengan langkah limbung (ia baru sebulan bisa berjalan), segera mengejar sang “pencuri” sampai ke pintu pagar, sambil berteriak-teriak dan mengacung-acungkan kedua tangannya.

Ia terdiam dan tampak bingung merasakan saya tidak bereaksi. Ia ingin memastikan perasaannya dengan membalikkan badan, lalu berlari ke arah saya. Baru beberapa langkah, ia berhenti mendadak ketika tersadar bahwa si pencuri bisa pergi makin jauh karena ia lepaskan dari kejarannya. Alma menatap saya. “Kenapa Ayah diam saja?” begitulah nada protes tatapannya. “Lihat, barang ‘kita’ dicuri!”

Karena saya tetap diam dan hanya menatapnya dengan takjub dan terharu pada pembelaannya, ia kembali membalikkan badan dan berlari ke arah sang pencuri sambil melanjutkan teriakan-teriakannya yang tak berstruktur.

Setelah susternya menerangkan bahwa laptop itu bukan dicuri tapi cuma dimasukkan ke mobil untuk dibawa ke kantor, barulah Alma tenang.

Ia tahu bahwa benda yang tidak ia ketahui namanya itu adalah milik ayahnya, milik “kita”, kepunyaan keluarganya, meski bukan mainan pribadinya.

Apakah hak milik itu natural, bukan konsensus budaya? Tampaknya begitu. Secara alami rupanya setiap manusia memahami dan menerima konsep hak milik.

Kebudayaan kemudian merumuskannnya sebagai hukum – sambil terus mempercanggih konseptualisasinya (merinci jenis-jenisnya, batas-batasnya, masa waktu kepemilikan, dsb). Tapi semua ini, meski tentu saja sangat penting, hanyalah pem-budaya-an yang dikukuhkan dengan peng-hukum-an (legalizing). Basisnya adalah alami, kodrati.

Alma Sophia hari ini mengajari saya tentang hal itu. Saya tidak pernah memberitahunya bahwa laptop itu milik saya, milik “kita”. Saya tak perlu menginformasikan kepada dia, sebab saya pikir benda itu tak relevan dengan dirinya (di sinilah mungkin letak kesalahan saya). Dan itu adalah salah satu saja dari rangkaian pelajaran yang setiap hari – setiap hari! – dia berikan kepada ayahnya.

Saya tak henti mengucapkan terima kasih kepadanya, bukan sekadar karena pelajaran-pelajaran itu. Tiap hari saya membisikkan terima kasih ke telinganya, meski kadang dia tak mendengarnya karena telah tertidur, karena Alma telah menjadi anak yang melampaui harapan orangtuanya.

Ia, seperti semua anak seusianya, adalah manusia dewasa bertubuh mini. Saya tidak pernah dan tak akan pernah mempermainkannya. Misalnya dengan pura-pura mau memberi sesuatu kepadanya lalu menariknya. Atau mengoloknya dengan pura-pura mau mengambil benda miliknya. Atau menakut-nakutinya dengan hal apapun.

Atau menertawai kemalangannya, misalnya jika ia dengan “bodoh” dan “kocak” terjatuh, semata-mata karena alam masih menunda pemberian berkah kekuatan fisik minimal baginya untuk melakukan apa yang dia inginkan terlalu cepat. Atau membohonginya sekadar supaya dia mau makan atau menuruti kemauan saya.

Saya selalu menghormati Alma Sophia. Sebab, seperti semua anak lain, ia berhak mendapatkan penghormatan itu. Dan ia perlu memahami konsep hormat itu sedini mungkin – saya telah memilih caranya: dengan menerapkan konsep itu pada dia, sejak hari pertama kehadirannyadi dunia ini.

Kelak, Alma, jika kamu membaca catatan ini, dan melihat saya bersikap sebaliknya, tolong diingatkan, ya. Saya meyakini satu hal: peluang kamu dan saya untuk benar sama besarnya dengan peluang kita untuk salah.

Teruslah tumbuh, ’Nak.

Friday, October 09, 2009

One Fine Day...







Ngehe!
Hari ini gue lagi-lagi jadi orang ngehe.

Gue capek.
Capek jadi anak baik-baik
Capek jadi cewek manis yang meratap-ratap meminta dibalas sms sama lakor yang nggak nanggepin gue lagi
Capek sama orang-orang yang menghendaki gue tampak cool terus
Capek dengan bahasa sms yang baik-baik
Capek nanggepin orang-orang yang tersinggung
Capek sama banyak hal yang bukan gue
Capek sama semua
Capek!
Taik!

This is exhausting!!!!!


Gue capek dengan semua yang baik-baik yang udah berusaha gue bangun selama ini.
Gue juga capek harus bermanis-manis
Capek kalau orang nggak suka hanya karena gue nggak suka sama hal yang semua orang suka.

Dan nggak usah bilang, “istirahat aja kalau capek mah, cu! Susah amat!”
Kagak perlu!

It is tooooooooooooooo cliché.
dan agak norak juga, you know.

Mantan gue yang bikin becandaan itu, dan itu becandaan taun 2000-an. Jadi kalau ada yang nanggepin kecapekan gue dengan kata or kalimat itu…. PRET! Kemana aja lo? Ketinggalan gaul berapa abad lo? Abis pulang ngungsi dari arab?!

Ya, ya…
Sejak kemarin gue juga jadi orang yang nyebelin.

Si cecep udah kena. Hari ini si bobby yang kebagian giliran. Lagian aneh aja. cowok-cowok itu ngapain tersinggung siyh? Gue cum pengen jawab suka-suka gue aja. Emang itu yang terjadi sama gue, terus gimana??!!! Ngapain juga gue harus hipokrit?! Apa dalam realita, gue juga harus ngarang?! Cuma buat bikin orang senang? I’m not kinda girl like that, hi all you guys out there!!!

You wanna girl like that?!!

Sono lo pergi ke pasar!
Bejibun!
Tumpang tindih kayak pisang kapas.

Cuma maaf, ya. Gue nggak mau jadi pisang kapas.
Gue nggak akan mungkin ada di pasar yang bejibun itu.
Gue bisa pasang style murah (terhadap orang or sesuatu yang gue pengen),
tapi maaf yaaa… gue nggak murahan.

Hanya saja goshhhh!!!

Finally gue dapetin kalau hari ini, selain hari yang bikin capek, juga it is… ternyata adalah salah satu one fine day dalam 3 bulan terakhir ini.

Hari ini gue makan kerupuk, (sebangsa makanan paling ajaib menurut versi gue—abis gue doayn banget kerupuk), beli di warung rokok jalanan deket pejaten, dan rasanya enaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk… banget.

Abis itu, sepulang dari NEXT ACADEMY (gue mulai ngajar senin depan) gue sengaja sedikit jalan kaki dari tempat itu (karena setiap hari gue mengharuskan diri gue menggerakkan badan minimal 30 menit) gue makan pecel lele di pinggir jalan sebrang republika, ikutan ngantri sama mbak-mbak penjaga counter mall pejaten yang lagi pada makan siang di warung pecel emperan.

Dan rasanya?

Hhhmmm… enaaaaaaaakkkk.. banget .

(o my god! Nggak perlu imajinasi Arthur tofte tentang cyborg berpakaian dan bermental seragam, mereka semua, mbak-mbak penjaga counter dan kios itu.. mereka semua seragam booo, pakaian, cara bermake-up, sanggul, sepatu, dan bahkan hp mereka yang kayak BB tapi ber-merk nexia atau sesuatu seperti itulah)

Dan saat gue tarik nafas di udara penuh timbal di daerah buncit, rasanya freeeeeeeeeessshhhhhhhhhh banget.

Trus gue naik taksi ke transtv, menunggu dengan sabar uang cash fee gue nulis di cashier, dan meski ngantri, gue kayaknya tabaaaaaaaaaaaaaaaah banget.

Nggak lama kemudian gue dituntun alam bawah sadar gue. Gue nggak tahu kenapa gue naik busway trus turun di kuningan dan nyegat kopaja P20. Karena harusnya gue ke TIM buat lihat screening film documentary penting di Teater kecil. Tapi bawah sadar gue berhasil menipu dan bilang ke otak gue kalau P20 lewat TIM. So… setelah di tengah perjalanan gue sadar kalau itu bus nggak bakal pernah sampai TIM, gue pun turunlah di Goethe. Dan baru ‘ngeh’ lah gue kalau 3 kali Aci dari CCF kirim email ke gue buat datang ke Goethe untuk nonton ‘tari lecture’. OMG! Dan gue emang amat pengen datang ke acara itu. amat sangat. tapi gue lupa. untung bawah sadar gueberhasil menipu dan mengirim impuls palsu ke otak gue.

Lantas apakah gue nyesel karena gue berhasil ditipu?

Sama sekali nggaaaaaaaaaaaaakkk!!!

Dari jam 5sore, gue ngendon di perpustakaan Goethe dan lagi-lagi terpesona sama OTTO DIX. Di perpus GOethe, bisa nyuri-nyuri motret karya otto dix rasanya bahagiaaaaaaaaaaaaaa banget.

Dan setelah makan salad lumayan enak after watching dance performance di Goethe, gue kembali ke scene itu.

Rasanya dah lama banget gue nggak lihat orang-orang atau crowd musik punk berkumpul. Meminyaki tubuh mereka hingga berkilat dengan keringat. Teriakan-teriakan yang bikin tenggorok serak. Lagu-lagu yang cuma terdiri dari loncatan-loncatan tinggi teriakan tak jelas. Rambut gimbal atau punk acak-acakan suka-suka belah mana saja. Musik bising yang bikin orang gerak jejingkraan kayak jelangkung kerasukan. Juga musing move yang bikin ruangan kayak gempa meski cuma itu cuma lompatan anak-anak punk gila yang lagi edan seseruan.

Pak polisi, pak polisi…
Dimana ibu kami?
Pak polisi, pak polisi…
Dimana ayah kami?


Ahahahaha, ya, yaaa…
Dimana orang tua kami??

Jam 01:00…
Tentu saja mereka lagi molor di rumahnya, moron!!!!
Masa’ masih nanya juga?!!

Kikiikik…
Ngatain diri sendiri monster dan nggak peduli sama orang, ternyata enak banget, gila!

And…. may be finally, I found my one fine day. Today.

Matahari terasa bagus
Udara terasa bagus
Cuaca terasa bagus
Makanan terasa bagus
Suasana hati terasa bagus

Apalagi yang masih kurang?

Tengkyu Lely, Nina, Franzy, Marizka and Melvi.
I still can smell the vibrate of the earthquake in their third floor…

*kita cuma butuh cacimaki dan secangkir atmosfir baik hati untuk membuat sebuah kue bernama: kue hari baik. hehe*

Wednesday, October 07, 2009

OUT of CONTROL (*GLORY, God... thank you*)





udah lama nggak baca puisi dan nggak bikin puisi juga. padahal musim hujan sudah datang dan biasanya hujan selalu jadi teman terbaik gue buat membilas banyak hal.

ada banyak hal, tapi semuanya seolah begitu liar dan susah diatur, belakangan. mereka kayak nggak mau gue kontrol. mereka seperti punya kaki dan kepalanya sendiri, sementara kaki gue terlalu bingung untuk bergerak dan kepala gue kok malah diem aja kayak batu yang stuck di dasar sumur tanah.

project personal, itu begitu banyak. semua orang tinggal nunggu gue aja. sebut saja: trilogy last of pramoedya yang harus diajukan untuk dibikin DVD-nya. Waktu itu: Januari 2008--tentang wartawan yang meliput soeharto kritis (dan tinggal post production aja). riset projek film doc mimpi gue yang kayaknya sulit banget dilanjutin kalau nggak dapat budget yang proper: where do you go, my love?

itu baru audio-visual, belum tulisan... kumcer gue yang tinggal kurang satu story. novel gue, yang susah lanjut apalagi kelar karena si inspiring creature behind the story-nya menjauh darigue dan itu bikin inspirasi gue minggat juga..

belum lagi rencana bikin film pendek dengan seorang animator yang udah siap, dan sebenarnya story gue juga udah siap. dan kerjaaaaaaaaaann....

WHAT THE HELL??!!!

mengapa gue males banget kerja?!!!
entah untuk personal project atau yang ngasilin duit dan udah berkomitmen dengan orang.

story development bareng ivan belum gue garap dan nggak kelar-kelar. harusnya bikin sinopsis dan skrip untuk trans -BRISinema, eh gue malah ngeblog dan nulis ini. gue juga bisa nulis buat Trans Bioskop kalau mau, tapi nggak gue lakukan karena nggak lagi butuh-butuh banget duit. dengan apa yang gue dapet dan cuma ngepas aja, gue tetap bisa senang-senang: naik taksi, ngafe, beli buku yang gue mau, beli baju dan coat keren yang gue suka, jalan-jalan ke luar kota dan sesekali ke luar negeri...

vero bilang, gue pengangguran jaya. ahahaha. gue bilang, gue pengangguran yang nggak pernah nganggur dan tepat sekali apa yang si kakak bilang waktu gue ngadu ke dia tentang betapa banyak kerjaan gue yang nggak kelar dan setengah-setengah, lantas dia bilang... 'kamu kurang hiburan kali cu!'...

ya, ya... bukan kurang hiburan kak, tapi kayaknya aku kerap nggak ada holiday. makanya kemarin itu aku pengen cabs ke KL. tapi sialnya, bahkan pas gue mau holiday pun, tetap aja gue kerja, meski itu cuma nyambi-nyambi dan or semacam tabungan buat riset or apalah. tapi ya gitu dehhhhh... jadinya begini deh gue sekarang.

block writer
stuck
do not know whats going on with me...


BUT!

kekeuh aja gue nggak berhenti bertanya ke gue sendiri:

so what is this now?
kenapa ini semua nggak terkontrol?
kerja-kerja freelancer ini?
project-project personal ini?
ketakbergairahan bekerja ini?
kegairahan dengan ide-ide baru namun membuat secara nggak bertanggung jawab meninggalkan kerjaan lama yang belum kelar?
stuck things ini?
all of these maladies?
main-main gue ini?


Oh shittt!!!!

akankah jalan ini merusak gue?

[sesungguhnya saya agak takut. karena sekarang semua hampir memcapai balance. saya pernah belajar kerja selama 5 tahun. kerja dengan jadwal ketat. dan ini tahun ke-4 saya menjadi bos untuk diri saya sendiri, anddddd... survive serta happy go lucky juga siyh sejauh ini.

banyak hal yang saya invest--mesku bukan berupa duit--sudah saya tuai hasilnya--

but i'm a little bit afraidddddd... jauh di dasar hati saya, saya sedikit merasa takut. saya tahu semua orang ingin berhenti dari kerja dan kerap jelous dengan saya. ada yang ingin nulis tapi mau kaya dulu. ada yang mau bikin sesuatu tapi udah keburu tua karena kelamaan kerja padahal waktu kreatif amat sedikit. ada yang takut-takut pengen keluar kerja karena mau ngerjain hal yang dia suka dan saya selalu bilang jangan pernah ninggalin kerja yang memberi lo masukan aman bulanan bila belum tahu apa yang kamu akan lakukan... dan sekarang.... saya takut juga euy. sedikit. saya terlalu banyak kemauan dan itu bikin saya ngeri karena khawatir membuat saya jadi nggak tahu apa yang harus saya lakukan. saya harus berada di bawah tekanan. saya butuh force!!!!)

semua ini mulai nggak terkontrol
dan tak terkontrol,
itu agak menakutkan...
gue mulai terlalu suka-suka gue
gila!!!

o betapa saya butuh puisi
betapa saya butuh jeruk
betapa saya butuh langit yang lebih biru
betapa saya...


ya,
saya cuma manusia biasa yang sesekali gila

hiks

____________________

*Di sebuah talkshow oprah, gue lihat spike lee juga akhirnya (ini bapak, kalau gue jadi dapat beasiswa or bisa pergi ke TISCH SCHOOL di NYU, akan jadi dosen gue euyh!). spike lee bilang dengan lantang dan bangga, KEBANYAKAN ORANG DI DUNIA, MATI SETELAH DIPERBUDAK PEKERJAAN YANG DIBENCI. Saya tak akan mati seperti itu. karena saya bangga dan amat suka pekerjaan saya ini. membuat film. sebuah kerja yang tidak hanya membutuhkan waktu dan tenaga, tapi juga cinta dan kolaborasi imajinasi, suatu product yang hasilnya bisa mempengaruhi sudut pandang orang akan banyak hal, menciptakan lagi imajinasi bagi penontonnya. a never ending circle of imagination. the never dying works unless i'm dead already..." ucapnya setelah malam sebelum acara oprah, dia baru saja premiere untuk film terbarunya Miracle at St. Anna.

And...

Yup, spike leee! Sure! it is a never ending story, and I'm proud of being a liitle part of it. What an artis did: Painting, filming, writing, playwright playing, designing, etc. it is have so many advantages. despite not for they are their self, unless for others in this universe (thats explain me so much, why an artist so glimpse so lively but get hard way to make a living for survive in this hard live). And for this freelance things....

Aku nggak benci pekerjaan freelance ini, meski nggak aman secara finansial (dan sialnya, kadang gue suka dengan perasaan nggak aman ini. kayak lo lagi dalam kondisi rawan and nggak mapan. membuat kita harus force our self to the limit dan akibatnya... wwwwoooooowwww sometimes the result is so amazing. ahahaha. nggak pernah kebayang lo bisa melakukan hal kreatif apa dalam kondisi yang rawan dan nggak mapan. ide-ide aneh dan gila serta cerdas kerap bermunculan kalau lagi dalam situasi rentan dan termasuk juga di dalamnya kalaulagi bokek. ahahaha. and tentu saja I love being in that condition for not permanently, tentu saja...) tapi menjadi tuan untuk diri sendiri itu ternyata juga agak susah ya?! menjadi bos untuk diri sendiri itu amat enak, tapi kalau lagi nggak terarah kayak gini, agak sulit jadinya..... jadi out of control.

anywy...

makasih tuhan karena saya tahu apa yang sekarang saya sudah tahu. karena kau dan saya akhirnya berkolaborasi memberi petunjuk dan pencerahan pada pengetahuan saya tentang diri saya dan permasalahannya.

I love you God
So loving you...
So much in love with you...

Saya akan sembahyang sujud untukmu tuhan.
malam ini
besok
dan seterusnya
dalam hidup
juga dalam mimpi saya...

makasih, wahai si jiwa suci yang baik hati...
sukurku menjulang padamu

Thursday, October 01, 2009

Rencana ke KL yang Jadi Kacau Maninjau!

Harusnya akan ada acara jalan-jalan senang-senang. Ketawa ketiwi sambil cari seru culinery bareng Stania dan teman-temannya dia di KL yang wartawan dan filmaker.

Ya... shoping benda-benda kecil dan mungkin aja ada coat keren yang sesuai selera gue, dan bisa ditemukan di jajaran pertokoan di KL city sana. Sekelumit acara seseruan yang rencananya, salah satunya juga akan diisi dengan meliput secara iseng dan happy go lucky bareng temen-temen wartawan tV yang jadi koresponden untuk TV-TV indonesia. Ceritanya, kita akan secara enteng ngeliput tentang cara kerjawa wratawan koresponden meliput crowd atau sekerumunan orang yang menyambut mayat terorist Nurdin M Top pun, udah masuk dalam agenda bego-begoan kita.

Tapi peristiwa itu terjadi semalam.
Gempa bumi di Padang.
Dan efeknya, terbawa pada rencana gue dan stania.
Gua baru dapat kabar ini baruuuuuuu saja.

Si Stania yang kerja di Aljazeera, ditugasin liputan ke Padang. Dan gue yang buta KualaLumpur pun, jadinya mulai bengonglah mendengar kabar itu. Whattt?!!!

Terus gue ngapain dungs di KL sana kalau nggak ada si Stany?

Tapi ya seperti kalimat yang gue tahu tentang 'ketertawanan' (kita boleh terpesona oleh seseorang, tapi hanya cukup 15 menit saja, selebihnya.... STOP IT! atau sesuatu akan terjadi pada hati lo!), gue pun nggak lama-lama berada dalam keadaan bengong dan a little bit bingung seperti burung hantu kepentok pintu jendela *halah! apa sehhh? (Secara pesawat gue ke KL jam 5 sore ini dan gue baru dapat berita inibarusan serta belum packing pula!)

So... saya pun mulai calm.
Mencoba keluar dari pikiran keruh yang tadi tiba-tiba datang.
Mengambil jalan jernih sebentar, dan...

Jadi inilah rencana yang tergambar sekarang di kepala saya untuk urusan Jalan-jalan KL yang jadi kacauuuu gara-gara gempa di Pandang Maninjau.

Hhmmm...

DI Kuala Lumpur, sepertinya saya akan total bergabung sama si teteh saja deh. Teteh ini, maksudnya Nia DInata, dan dia adalah produser saya.

Memang kebetulan ada acara pemutaran film kami di FREEDOM FILM FESTIVAL di KL. Film kami menjadi film pembuka di festival tersebut. Saya sendiri, memang berencana untuk datang buat surprising si teteh, dan mungkin muncul tiba-tiba di acara Q&A di akhir penyangan film tersebut. Tapi setelah itu... selebihnya saya dan Stania berencana akan senang-senang dan bego-begoan.

Tetapi oh tetapi setelah gempa terjadi, segala berubah dan saya pun harus turut berpola sama. Mengadaptasi secepat mungkin perubahan situasi meski saya nggak gitu ngerti apa yang akan terjadi di KL nanti (i hope it will drag me to nice scene i never imagine before lah. hehe. wish me luck)

Jadi mungkin, setelah ntar malam saya akan nginap di apartemen Stania, Jumat pagi saya akan gabung sama si teteh di hotelnya dia untuk kemudian bareng ke tempat screening film. Jumat dan Sabtu, saya akan spending time sama teteh dan tentunya kami bisa bego-begoan sama para filmaker malaysia atau whoever it is lah ntar yang kita temui di sana (saya nggak kenal orang-orang or artist malaysia, boooo).

Setidaknya, sampai sabtu malam saya akan nginap bareng si teteh di hotelnya, untuk kemudian minggu paginya kami berpisah. Kita akan check out, dan si teteh balik ke Jakarta, sedang saya akan kembali ke Stania's apartemen.

And after that...

I will alone, with blindway...
Exploring the KL and enjoying loneliness in unknown place.


SOUND PERFECT, eh?
A terrible and very good reason for being so very lonely and maybe a chance to get more happyness tooo. Whuaaaaa....!!!

Ya, ya.
Siapa tahu....

___________

And FYI, this is my forecast horoscope:
Things may not be clear right now, but life isn't always meant to be in sharp focus.

Ahahaha.
Dan kayaknya kejadian deh!